BERAGAMA DI NEGARA BHINNEKA


BERAGAMA DI NEGARA BHINNEKA

Akhir-akhir ini masalah perbedaan agama selalu diributkan padahal yang patut direnungkan mengapa dulu, saat di mana zaman pendidikan belum begitu maju, belum banyak orang yang mengenyam bangku sekolah, bahkan belum mengenal kehidupan kuliah, rasa tenggang rasa dan toleransi bisa mengejawantah,  sedangkan sebaliknya secara diametral hari ini banyak anak lulusan kuliah, tetapi kenyataanya justru rasa toleransi dan tenggang rasa semakin memudar.

Suatu hari ada kiai-kiai NU kumpul di sebuah pondokpesantren.  Saat itu Mbah Yai Ahmad Mustofa Bisri ingin menerangkan awal mula kesalahan beragama.
Beliau melemparkan pertanyaan, “PPP, PDIP, dan Golkar itu wasilah atau ghoyyah?

Para kiai pun serempak menjawab dengan mantapnya, ada malah yang setengah berteriak.
Kiai sepuh itu pun serempak menimpali, “Nilai 100 untuk bapak-bapak kiai. NU, Muhammadiyah dan semacamnya itu wasilah atau ghoyyah”? Mbah Mustofa Bisri bertanya lagi.
Para kiai kemudian menjawab pelan agak ragu-ragu, “wasilah....”

Beliau hanya tersenyum mendengar nada jawaban para kiai yang mulai merasa berubah.
Pertanyaan terakhir, kiai sepuh itu bertanya, “Islam, Katholik, Hindu, dan semacamnya itu wasilah atau ghoyyah?”

Seketika itu pula ruangan menjadi hening, tidak ada kiai yang menjawab. Mbah Mustofa Bisri sampai mengulangi pertanyaanya tiga kali, tetapi para kiai tersebut tetap diam.

Ghoyyah berarti tujuan akhir. Wasilah berarti sarana menuju.

Kemudian ada kiai yang balik bertanya, “kalau pendapat Gus Mus sendiri bagaimana?”
Dengan mantap beliau menjawab, “Agama Islam adalah wasilah.”
Para kiai kemudian ribut sendiri, lho, bagaimana bisa agama Islam adalah wasilah?”
Sekali lagi dengan mantap Mbah Yai Ahmad Mustofa Bisri  menjawab penuh kharisma, “karena ghoyyah-nya .....Allah.”

Seketika itu pula semua kiai di ruangan tersebut kembali diam.
Mbah Mustofa Bisri lantas membuat pengandaian. Kalau anda ingin ke Jakarta memakai mobil, bus, atau kereta api, tidak akan sampai. Karena sedang  banjir, melalui jalan darat tidak mungkin sampai. Hanya bisa  sampai ke Jakarta dengan menggunakan pesawat terbang. Meski menjadi satu-satunya sarana transportasi yang bisa menjangkau Jakarata, pesawat terbang ini tetap hanya wasilah (sarana menuju).

Oleh karena itu, di berbagai kesempatan,  Mbah Mustofa Bisri menasehati Nahdliyin untuk selalu menghormati umat beragama lain. Bagaimanapun, umat beragama lain pada dasarnya sama seperti umat Muslim, yaitu sedang berusaha menuju-Nya. Semua pilihan orang lain harus dihargai seperti diri kita ingin dihargai memilih wasilah agama Islam.

Sekian dan terimakasih semoga bermanfaat
Selamat hari toleransi internasional.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »

1 comments:

comments