Agama Memanusiakan Manusia


Agama memanusiakan manusia

Islam merupakan  agama yang  toleran dari penamaan dan maknanya  Islam berarti kepasrahan, kedamaian, dan keselamatan. Kita harus merenung lebih dalam lagi. Perdamaian, kebebasan, dan juga toleransi adalah prinsip utama dalam menjalankan kehidupan, di samping tentu saja kebebasan juga menjadi bagian penting dari tujuan universal syariat Islam (maqashid as-syar`iyah) selain egaliter/persamaan derajat (al-musawa), merawat agama (hifdz ad-din), merawat akal (hifdz al-`aql), merawat keturunan (hifdz an-nasl), merawat kehidupan (hifdz an-nafs), dan merawat harta (hifdz al-mal).

Agama hadir untuk melindungi umat manusia. Agama diturunkan dan disyariatkan sebagai aturan yang emansipatif  terhadap umatnya. Bagaimana Islam dapat diterima di tengah-tengah masyarakat yang prural seperti di negara kita, Indonesia, adalah berkat dakwah toleran yang dijalankan oleh para pendahulu, terutama para Wali Songo. Islam harus selalu kontekstual dengan realiatas zaman. Islam yang dapat mengakomodasi tradisi dan budaya Indonesia.

Di sisi lain masyarakat saat ini begitu buas banyak nya tindakan-tindakan intoleran, kekerasan dll. barangkali persis apa yang dikatakan W.S Rendra (1997) dalam sebuah sajaknya, yakni masyarakat yang tak ubahnya rumput kering yang memiliki watak sangat mudah terbakar. Tidak perlu menunggu peristiwa besar, emosi bisa meletup kapan saja dengan skala pemantik yang kecil sekalipun kondisi ini berbahaya bagi kita semua.

Terkadang kita sebagai manusia terlalu memaksakan satu kepentingan yang sama adalah mustahil bagi manusia yang dikenal sebagai hewan yang berfikir (hayawan nathiq). Kita sebagai manusia harus memegang teguh bahwa Tuhan itu satu sementara kita, mahluk ciptaan-Nya adalah beragam dan pasti berbeda-beda. Karena itulah keragaman (prulalitas) di dunia ini adalah bentuk sunnatullah, kehendak, dan keniscayaan fitrah dari Tuhan.

Kemanusian, Islam mempunyai ajaran keseimbangan tentang relasi vertikal-individual (habluminallah) dan horizontal-sosial (habluminannas). Artinya, Tuhan memerintahkan kita untuk tunduk padanya-Nya, tetapi juga saling memuliakan antar sesama manusia. Jadi sikap saling memuliakan adalah salah satu manifestasi dari ajaran Tuhan, karena Tuhan tidak pernah membeda-bedakan manusia dengan apa pun latar belakangnya, baik sosial, budaya, agama, gender, jenis kelamin, dan lainnya.

Puncak dari keberagaman seseorang, meminjam apa yang dikatakan Gus Dur, adalah penghargaan terhadap rasa kemanusiaan. Jika penghargaan terhadap  rasa kemanusiaan di sebuah masyarakat itu sangat rendah, bisa dipastikan agama hanya berhenti pada dimensi eksoteris yang sifatnya simbolis dan kerap berupa selogan semata.

Sekian dan terima kasih semoga bermanfaat pantengin terus ya di ngangguronline .


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »