Pesantren sebagai Akar Pendidikan di Nusantara


Pesantren sebagai Akar Pendidikan Di Nusantara
Pesantren merupakan khazanah peradaban Nusantara yang telah ada sejak zaman kapitayan, sebelum hadirnya agama-agama besar seperti Islam, Hindu, dan Buddha. Setelah mengalami pertemuan dengan agama besar tersebut pesantren mengalami perubahan bentuk dan isi sesuai dengan karakter masing-masing agama.

Sejak awal pesantren menjadi pusat pendidikan di masyarakat kala itu mulai dari bidang agama, bela diri, kesenian, ketatanegaraan, dan perekonomian. Pada zaman Wali Sanga, pesantren yang semula bernuansa Hindu-Buddha mulai mendapatkan nuansa islam, sejalan dengan tersebarnya Islam di Nusantara.

Pesantren merupakan kreasi anak sejarah anak bangsa setelah mengalami persentuhan budaya dengan budaya pra-Islam. Pesantren merupakan sekumpulan komunitas independen yang pada awalnya mengisolasi diri di sebuah tempat yang jauh dari pusat perkotaan (pegunungan) (Dhofier, 1985: 10).  Seungguhnya asal muasal pesantren tidak bisa dipisahkan dari sejarah Walisongo yang menyebarkan Islam di Jawa pada sekitar abad 15-16 di  Jawa.

Berbicara selak beluk dunia pendidikan di Nusantara, tentu saja kita tidak bisa melepaskan diri dari pembicaraan mengenai pesantren. Sebab pesantren merupakan basis historis serta akar filosofis pendidikan di Nusantara. Mengutip analisis Manfred Ziemek pesantren adalah embrio utama serta tonggak berdirinya sejarah pendidikan di Indonesia sampai dewasa ini (Ziemek, 1975:7).

Pendidikan pesantren diberikan oleh seorang ulama atau kiai, ketika kita ingin mencari pesantren carilah kiai yang representatif yang mempunyai  sanad (mata rantai ilmu) yang jelas sehingga pemahamannya dalam keilmuan dapat dipertanggung jawabkan. Sang kiai atau ulama merupakan guru pembimbing yang menjadi contoh teladan bagi santri dalam kehidupan.

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الأَنْبِيَاءِ إِنَّ الأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا ولآ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

"Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak. “ (Hadis Riwayat Imam At-Tirmidzi, Imam Ahmad, Imam Ad-Darimi, dan Imam Abu Dawud).

Sekian dan terima kasih Semoga bermanfaat pantengin terus postingan -postingan saya yang selanjutnya.

Jangan sampai kesibukan mu
Mengganggu ibadah pada Tuhan mu

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »