Santri Ngalap Berkah Pada Sang Kiai



Pesantren adalah lembaga yang didirikan untuk membentuk dan mengembangkan karakter santri. Berbicara tentang akhlak atau karakter. Kamus besar bahasa Indonesia mendefinisikan karakter sebagai kepribadian dan juga budi pekerti. Sementara itu, jika dikaji secara etimologis, karakter berarti watak, tabiat, sifat kejiwaan, dan juga akhlak.

Di dunia pesantren akhlak santri ke pada kyai itu sangat penting bahkan banyak cerita kiai-kiai terdahulu, yang tidak pernah belajar  tapi pulang bisa menjadi kiai dan mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat di kampungnya. Pendidikan paling utama di pondok pesantren adalah mencetak manusia yang berkarakter.

Dalam dunia pesantren ada istilah yang dikenal dengan ngalap berkah, pada jaman Nabi pun para sahabat telah melakukannya terhadap Nabi, pendidikan pesantren pun meniru apa yang pernah dilakukan sahabat kepada Nabi karena para ulama itu pewaris nya para Nabi. Maka santri pun mengambil berkah dari pada ulama tersebut.

Dalil Tabarruk (Ngalap Berkah)

أَتَيْتُ النَّبِيَّ وَهُوَ فِى قُبَّةٍ حَمرَاءَ مِنْ أَدَمٍ وَرَأَيْتُ بِلاَلاً أَخَذَ وضُوءَ النَّبِيَّ والنَّاسُ يَبْتَدِرُوْنَ الوضُوءَ فَمَنْ أَصَابَ مِنْهُ شَيْئًا تَمَسَّحَ بِهِ وَمَنْ لَمْ يُصِبْ مِنْهُ شَيْئًا أَخَذَ مِنْ بَلَلِ يَدِ صَاحِبِهِ .     ( رواه البخاري )
Aku mengunjungi Nabi SAW saat beliau di kubah merah yang terbuat dari kulit hewan, aku lihat Bilal mengambil air bekas wudhu Nabi SAW dan orang-orang berlomba-lomba mendapatkannya. Maka orang yang mendapatkannya mengusapnya dan orang yang tidak mendapatkannya mengambil (mengusap) dari tangan temannya yang terbasahi ( air bekas wudhu Nabi SAW tersebut). (HR. Bukhaari).

Santri pasti pernah mengalami apa yang namanya minum sisa minuman kiai makan sisa makanan kiai, bahkan kadang santri berebutan untuk ngalap berkahnnya. Abdurrahman Wahid (2007, 92) mengatakan bahwa tingkat keberhasilan seorang santri bukan saja diukur dari segi kognitifnya. Namun lebih dari itu, ia diukur dengan menggunakan parameter tingkat ketundukan kepada seorang kiai.

Tingkat ketundukan ( tawadhu`) kepada kiai adalah salah satu etika sosial yang menjadi ciri utama seorang tersebut sudah berhasil meresapi nilai-nilai pendidikan pesantren atau belum.
Sekian dan terima kasih Semoga bermanfaat pantengin terus ya postingan-postingan yang selanjutnya.

Jangan sampai kepintaran mu
Membuat kau lupa jasa guru mu

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »