Akhlak dan Toleransi oleh penyebar Islam di Nusantara



Akhlak para penyebar islam  dan para kiai-kiai yang berdakwah setelah islam sudah menjadi mayoritas di nusantara  ini, sangatlah patut untuk ditiru kisah-kisah ulama yang sangat bijak dalam mengambil keputusan. Kebenaran itu sangat penting tapi bukan yang utama. Kebenaran harus ditambahi dengan kebaikan dan keindahan. Jika ketiga elemen itu bersatu di dalam jiwa seorang muslim, ia akan bisa mencapai derajat kemuliaan.

Pada masa walisongo mereka mempunyai beberapa strategi dalam berdakwah dengan mengambil prinsip utama “ mau’izatul hasanah wa mujahadah billati hia ahsan” dengan strategi mau’izatul hasanah, para tokoh khusus, biasanya para punggawa kerajaan dan tokoh adat, diperlakukan secara personal dengan diberikan keterangan tentang islam, peringatan-peringatan secara lemah lembut, dan penuh toleransi.

Namun apabila cara tersebut belum berhasil walisongo mengunakan cara berikutnya, yakni al muzahadah billati hia ahsan cara yang ini diterapkan kepda tokoh yang dengan secara terus terang menunjukan sikap kurang setuju terhadap islam. Rangkaian cara ini bisa dilihat ketika Raden Rahmat atau Sunan Ampel ampel dan kawan-kawan kepada Arya Damar dari palembang. Berkat keramahan dan kebijakan Raden Rahmat, maka Arya Damar kemudian masuk Islam bersama istrinya. Dan tak lama kemudian diikuti pila oleh hampir segenap anak negerinya.

Sunan Kudus dengan kisah menara dan tidak boleh menyembelih sapi telah menunjukan kebijaksanaanya. Adalah contoh keberhasilan dakwah dengan juga melibatkan pendekatan secara kultural. Inilah beberapa contoh dakwah yang sangat berhasil dilakukan para penyebar Islam di masa lalu yang harus kita contoh bersama keteladanan, kebijaksaan, dan keindahan. Tapi akhir-akhir ini banyak para penceramah yang saya rasa tidak mencontoh para penyebar Islam di nusantara kurang bijaksana dalam mengambil langkah dakwahnya.

Jika kita menggunakan kebaikan, kebenaran, dan keindahan sehingga nanti akan mencapai kemuliaan, niscaya tidak akan ada lagi bom bunuh diri yang mengatas namakan agama Islam, tidak ada lagi keributan antara ormas Islam dengan beragam perbedaan cara berijtihadnya, dan tidak ada lagi yang mempermasalahkan keragaman etnis, suku, agama dan lain-lain di Nusantara ini.

Sekian dan terima kasih semoga bermanfaat  bagi kita semua pantengin terus ya postingan-postingan saya yang selanjutnya.

Share this

Related Posts

Previous
Next Post »