Pentingnya Tanah Air


Pentingnya tanah air dapat kita lihat dari perjalanan hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah. Nabi ingin mempunyai tanah air (negara) agar dakwah Islam dapat berkembang dengan baik. Ada sebuah pepatah Arab: “Barangsiapa yang tidak memiliki tanah air, ia tidak memiliki  sejarah. Dan barangsiapa yang tidak memiliki sejarah, akan terlupakan.” Contoh nyata  adalah bangsa Kurdi yang tidak memiliki tanah air sehingga tercerai-berai hidup berdiaspora di Turki, Irak, dan Suriah.

Anehnya, saat ini di lingkungan keagamaan ada sebagian kecil yang mempunyai pandangan nasionalisme dan agama itu berlawanan. Bahkan, menyebutnya sebagai kafir atau thaghut karena produk dari barat. Hemat saya nasionalisme ini hal yang baik karena jika kau mencintai negeri ini otomatis kau menjaganya, jika kita bisa menjaganya apapun ritual keagamaan akan bisa dilaksanaakan dengan indah.

Adanya sekelompok orang yang mendikotomi terhadap agama dan nasionalisme, mereka tidak belajar dari apa yang terjadi di negeri-negeri di mana mayoritasnya umat Islam  sering kali terjadi pertumpahan darah.

Jamaluddin mengatakan bahwa suatu bangsa terbentuk karena adanya unsur-unsur dan akar-akar sejarah yang membentuknya. Oleh karena itu, dibutuhkan pemikiran bahwa pengabdian tertinggi seorang manusia untuk bangsa dan negara disebut nasionalisme.

Azyumardi azra mengatakan Nasionalisme di dunia Islam dapat dipelajari dari sejarah negara-negara muslim yang ada di dunia yang bersentuhan secara langsung dengan masyarakat dan negara-negara erofa. Turki adalah salah satu negara musllim yang menerima secara terbuka konsep nasionalisme sebagaimana yang ada di negara-negara barat. Dinasti Utsmani kala itu menguasai hampir seluruh kawasan timur tengah. Negara-negara ini mangakui dan mengagumi beberapa konsep politik erofa diantaranya di bidang adminitrasi negara dan militernya.

Habib luthfi mengatakan “jangan diragukan lagi nasionalisme para ulama. Mereka, terlebih ulama tarekat, sudah sangat jelas keberpihakannya pada negara ini. Bahwa mereka para ulama, para habaib, para mursyid, para kiai, secara lahir batin mencintai negara ini dengan setulus hati. Bukti-bukti sejarah tidak bisa dibantah lagi. Mereka tidak pernah bughat (memberontak). Justru mereka rela berkorban untuk negara ini.

Sekian dan terima kasih semoga bermanfaat pantengin terus postingan-postingan saya di ngangguronline.


Share this

Related Posts

Previous
Next Post »